[VIETSUB] Võ Tòng Giết Tây Môn Khánh | Võ Tòng Trả Thù Cho Đại Lang | Phim Cổ Trang/Hành Động| YOUKU

    Berikan guci araknya padaku. Jangan merampas milikku. Jangan berdebat lagi, cepat bebenah! Cepat! Siapa yang minum arakku lagi? Pergi! Angkat ke luar! Ada apa ribut-ribut di luar? Kalian mau pergi ke mana? Jika tak mau mati, cepat turunkan pisau kalian. Ketua Wu. Aku di sini. Suruh orang-orang kita serbu masuk dan bunuh mereka semua.

    Tuan Hu. Sepertinya di luar tak ada orang. Kepala Wu. Kau tidak datang sendirian, ‘kan? Kak Bao. Ada aku juga. Kau sungguh datang sendirian, ya. Bunuh dia. Kepala, selamatkan aku! Kepala. Aku baik-baik saja. Beruntungnya ada bantalan orang mati. =Wu Song VS Ximen Qing= Tuan Pejabat. Ayo pergi. Baik. Ke mana?

    Pergi ke tempat tak ada orang yang mengenali kita. Jinlian. Aku merasa sekarang cukup bagus. Tuan Pejabat merasa bagus. Namun, aku tidur seranjang bersama Wu Dalang setiap hari. Sehari terasa seperti setahun bagiku. Dia hanya pria pendek, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku tak mempedulikannya. Bagaimana dengan Wu Song? Apakah itu Wu Song? Aku tak pandai dalam hal ini. Jika menyakitimu, mohon dimaafkan. Maaf merepotkan Kakak Ipar. Wu Song. Bagaimana kau bisa terluka? Kau jangan sampai buat masalah di luar. Aku sudah menjadi Kepala, bisa buat masalah apa lagi? Bagus jika begitu. Kakak dulu sering memberitahumu. Harus bisa toleransi.

    Jangan bertindak dengan gegabah meski kau adalah kepala. Kita sudah cukup menderita. Perkataan Kakak benar. Aku pasti mengingatnya dalam hati. Mau minum? Baik. Mengingat di hati adalah satu hal. Melakukannya atau tidak adalah masalah lain. Aku sedikit menceramahimu. Bukan menyuruhmu mengingat kebaikanku. Jika kau kenapa-kenapa di luar,… – Kau bisa bicara begini sekarang. – …maka…

    Orang akan terluka jika kau lemah. Beberapa hari lalu ada orang yang memakan rotimu. Tak membayar malah menghinamu. Aku tak melihatmu seperti tadi juga. Siapa orang itu? Beraninya menindas kakakku. Aku pergi cari dia! Aku… Aku salah bicara. Adik Ipar, istirahatlah lebih awal. Kak. Apa kau baik-baik saja? Arak ini sayang sekali. Wu Song.

    Menjadi pejabat harus ada sikap seorang pejabat. Kakak tak perlu kau melakukan sesuatu untukku. Hanya perlu kau tetap aman. Kita dua bersaudara hidup tenang, itu lebih baik dari apa pun. Bisa tidak? Ulurkan tanganmu. Minta maaf. Ini… Ini… Kepala. Kakakmu tak di sini. Aku minta maaf pada siapa?

    Meski Kakak tak di sini, kau tetap harus minta maaf. Baik. Minta maaf. Kakak! Kakak! Maaf, ya, Kakak! Kakak! Kenapa lagi ini, Kepala? Uang roti! Kawat Perak tak muncul lagi selama lima tahun ini. Kepala Wu pun sudah menjabat. Dia lebih tak berani muncul lagi. Tak mungkin. Berikan ini untuk ibumu. Kesehatannya tak baik. Kepala. Tak pernah ada pria yang begitu baik padaku. Minggir. Tuan Pejabat. Aku takkan datang lagi kelak. Karena Tuan Pejabat tak pernah sungguh merencanakan untukku. Maka aku harus berpikir untuk diriku sendiri. Melindungi diri sendiri. Kepala. Kakak Iparmu semakin cantik belakangan ini. Apakah kakakmu bisa menanganinya? Apa yang kau katakan? Kepala sudah kembali? Ya. Aku akan ke tempatmu besok. Terima kasih, Kepala. Adik Ipar.

    Sudah kembali? Kakak Ipar. Apa kau keluar hari ini? Tak ada. Seharian di rumah, tak ada keluar. Mungkin petugas ronda di luar salah lihat. Adik Ipar sudah lelah. Istirahatlah dulu. Aku pergi siapkan makanan. Baik, sudah merepotkan Kakak Ipar. Putraku. Dapat uang dari mana? Ibu. Itu adalah gajiku. Anda jangan khawatir. Putraku.

    Kita akhirnya ada hari-hari yang damai sekarang. Jangan pernah seperti dulu lagi. Ibu. Aku mengerti. Mari. Minum obat. Jinlian. Ini sudah terlambat. Kenapa kau masih belum siap-siap? Tuan Pejabat sudah tak sabar menunggumu. Ibu Angkat. Aku kurang sehat hari ini. Tak pergi dulu. Masih marah tentang urusan kemarin? Jinlian.

    Ibu Angkat sangat tahu apa yang kau pikirkan. Namun, perlu menunggu kesempatannya. Selama kau membuat Tuan Pejabat senang,… …akan ada lebih banyak lagi kesempatannya. Kesempatan? Aku mana ada kesempatan. Aku hanyalah sebuah mainannya saja. Jinlian. Kenapa kau berkata seperti itu? Ibu Angkat. Ada banyak wanita di kabupaten ini. Tolong Anda carikan lagi yang lain untuknya.

    Meski aku membawa wanita dari seluruh dunia… – …ke hadapan Tuan Pejabat… – Ibu Angkat. Silakan Anda kembali saja. Ibu Angkat bicara sepatah kata lagi. Jika kau bersandar pada Tuan Pejabat Ximen,… …setidaknya masih ada sedikit harapan. Jika kau melewatkan ini,… …apakah kau rela melewati seumur hidupmu dengan… …pria membosankan, Wu Dalang?

    Roti yang masih panas. Roti, roti. Pelanggan, belilah rotinya. Pak, minta rotinya satu. Baik. Ayo, sebelah sini. Kepala. Kakak iparmu semakin cantik belakangan ini. Apakah kakakmu bisa menanganinya? Kakak dulu sering memberitahumu. Harus bisa toleransi. Jangan bertindak dengan gegabah meski kau adalah kepala. Kepala, jangan pergi. Aku mau bicara padamu. Kepala, kakakku disalahkan.

    Bisakah kau membantunya, Kepala? Kakakku disalahkan. – Nanti baru dibicarakan. – Kepala. Kepala! Bukankah ini Kepala Wu? Kenapa hari ini ada waktu? Aku siapkan teh untukmu, ya. Anda mohon tunggu. Apa yang dilakukan kakak iparku di sini? Aku sudah tua sekarang. Aku suruh Jinlian buatkan baju pemakaman untukku. Kepala Wu. Kepala Wu!

    Apa yang kau lakukan? Kepala Wu! Kepala Wu! Siapa? Minggir sana! Siapa kau sebenarnya? Utusan departemen mana? Apa kau tak tahu siapa aku? Apakah kau tak punya otak? Apa kau tahu siapa pria itu? Dia orang dari Keluarga Gao di ibu kota. Bahkan jika aku melihatnya, juga harus menghormatinya. Beraninya kau ikut campur dalam perzinahannya?

    Kau yang buat masalah, malah melibatkanku? Dia memberitahuku dia tak ingin melihatmu lagi. Jika melihatmu lagi, bahkan posisiku tak terlindungi! Kau pergi ke ibu kota besok. Pergi antarkan barang untukku. Tak boleh pulang sebelum Tuan Gao meninggalkan Kabupaten Qinghe! Ibu kota? Bukankah itu sangat jauh? Memang ingin kau pergi selama satu tahun bahkan lebih.

    Aku tak mau pergi. Tak mau pergi juga harus pergi. Bukan kau yang putuskan. Kakak, berikan bolanya padaku. Tak mau. Berikan padaku. Tak mau. – Ambil sendiri. – Kakak. Kupukul kau. Sudahlah. – Kakak. – Ambil ini. Mau pulang tidak? Sudahlah, jangan main-main lagi. Ayo, pulang ke rumah. Adikku sangat patuh.

    Jangan makan makanan sisa semalam lagi. Sudah mengerti, suamiku. Kita berdua ini, kenapa susah sekali untuk hidup dengan tenang dan aman? Kak. Tak perlu katakan apa-apa lagi. Kembalilah dengan selamat. Kak. Aku hanya memilikimu satu adik. Kak. Setelah aku pergi,… …kau harus jaga diri sendiri dengan baik.

    Ingat keluar siangan dan pulang lebih awal pada hari kerja. Jika ada masalah,… …tunggu aku pulang baru bereskan. Adik dungu. Sejak kapan Kakak membuatmu khawatir? Pergilah. Kau pergilah saja. Tiba-tiba turun hujan. Barang-barangku jadi basah. Kau luar biasa cantik. Tuan Pejabat. Aku takut. Takut apa? (Almarhum Suami, Wu Zhi) Takut pria pendek itu kembali? Aku… Aku… Aku takut Wu Song kembali. Wu Song? Apakah dia masih bisa kembali? Pelanggan, ini arakmu! Para pelanggan. Makanannya akan segera disajikan. Kepala. Apa yang dilakukan para bandit ini?

    Mereka bahkan berani menyerang pejabat. Tak tahu. Pak Zhao. Apakah usahanya bagus? Bagus. Kepala, sudah lelah sepanjang jalan. Anakmu sudah tumbuh besar. Mari. Biar Paman Wu gendong. Cepat. Beri salam pada Kepala. Halo, Kepala Wu. Halo. Ayo, pulang ke rumah. Baik. Pergi dulu. Selamat datang, Kepala. Selamat datang apanya? Ayo ikut aku pergi minum arak. Kepala. Itu…

    Ada satu hal yang mau kukatakan pada Anda. Masalah apa? Kakak Anda… terjadi sesuatu padanya. Wu Song sudah kembali, kau cepat pergi. Dasar tak berguna. Cepat, pergi dari jendela. Cepat. Kakak Ipar. Apa yang terjadi pada Kakak? Hidupku… …benar-benar pahit. Beberapa hari yang lalu,… …kakakmu tiba-tiba bilang dadanya sakit. Baru makan obat beberapa hari,… …dia sudah langsung meninggal dunia. Kakak tak pernah ada penyakit ini. Kenapa dia bisa meninggal dunia? Kepala Wu sudah kembali. Turut berduka cita. Hidup ini terlalu tak terduga.

    Setiap orang ada takdirnya masing-masing. Siapa yang bisa menjamin akan baik-baik saja? Benar. Beberapa hari ini, Ibu Angkat juga membantu urus pemakaman. Kapan ini terjadi? Dua hari lagi… …adalah hari ke-47 sejak dia meninggal. Di mana Kakak dikuburkan? Aku sendirian. Tak dapat menemukan tempat pemakaman yang cocok dalam sesaat. Setelah hari ketiga meninggal,…

    …tubuhnya sudah dikremasi. Kremasi? Wu Song. Kakak tak perlu kau melakukan sesuatu untukku. Hanya perlu kau tetap aman. Kita dua bersaudara hidup tenang, itu lebih baik dari apa pun. Aku hanya memilikimu satu adik. Kembalilah dengan aman. Pergilah. Pergilah. Kau masih berani minta bayaran? Orang-orang kami juga banyak terluka. Bagaimanapun, kau harus beri biaya pengobatan.

    Jika kau tahu diri, cepat keluar sekarang juga. Jika tak dapat uangnya hari ini, aku takkan pergi. Jika begitu, tak usah pergi. Kerjaan yang sebelumnya kukatakan pada kalian. – Siapa yang akan pergi? – Aku yang pergi. Aku sudah menunggu Wu Song selama setahun. Aku ingin bertemu dengannya. Bagaimana jika… …kau yang pergi?

    Pembunuh Kawat Perak yang sudah lima tahun tak muncul. Ternyata menjadi seorang pengemis. (Persembahan) Kepala Wu, sudah diperiksa. Pembawa peti mati adalah petugas lokal, He Jiu. Sudah pindah ke luar kota. Tak bisa menemukan jejaknya. Bagaimana jika aku pergi tanya ke Kak Bao lagi? Aku pergi sendiri. Kakak. Jika kau memiliki keluhan,… (Plakat Mendiang Suami, Wu Zhi) …kau di alam baka sana… …meski berubah menjadi hantu… …kau harus memberitahuku. Aku berjanji akan menghancurkan pembunuh itu. Kepala. Anda sudah kembali. Masuk… Apakah kau kenal Tuan ke-9 He? Dia pindah ke luar kota. Di mana? Di Desa Cha 1.5 kilometer dari sebelah timur kota. Baik. Untuk ibumu. Kepala. Turut berduka cita. Kau juga harus lebih hati-hati. Ibu. Ibu! Ibu. Sudah datang. Kepala Wu. Aku sangat merindukanmu. Di mana He Jiu?

    Tuan Ke-9 He ada di dalam peti mati ini. Peti mati yang satunya lagi disiapkan untukmu. Kali ini,… …mari kita main sekali lagi! Kepala Wu. Aku lapar. Aku ingin makan roti buatan kakakmu, Wu Dalang. Terima kasih Kepala Wu sudah menyelamatkan nyawaku. Kau penyelamat hidupku. Bagaimana kakakku bisa meninggal?

    Aku tak tahu juga apa yang terjadi. Hari itu, Nenek Wang menyuruhku mengotopsi mayat Wu Dalang. Jadi, aku segera ke sana. Namun, tiba-tiba aku bertemu Tuan Pejabat Ximen di tengah jalan. Dia mengundangku masuk ke Restoran Singa. Pak He Jiu, ini adalah deposit. Aku akan memberikan upah lagi besok. Aku tak melakukan sesuatu untukmu.

    Aku mana berani menerimanya. Pak He Jiu. Kau terlalu sungkan. Silakan diterima dulu baru kukatakan. Tuan Pejabat ada keperluan apa, katakan saja. Hamba akan mendengarkannya. Tak ada masalah besar. Nanti kau akan pergi autopsi tubuh Dalang. Aku sudah mengatur semuanya. Kau tinggal tutup brokat tempat tidur saja. Jangan mengatakan apa pun. Baik, ini masalah kecil.

    Tuan Pejabat hanya perlu memberitahuku. Uang ini… Jika Pak He Jiu tak menerimanya, berarti kau menolaknya. Ximen Qing berhati kejam dan sadis. Aku tak berani tak menurutinya. Setelah sampai di rumah, aku membuka kain putihnya. Aku melihat kuku jari Wu Dalang menghitam. Bibirnya berwarna ungu. Keluar darah dari mata, telinga, hidung dan mulut.

    Itu pasti mati keracunan. Aku ingin melaporkan masalah ini. Namun, takut tak ada yang membelaku. Jadi, tak berani bersuara. Hari ketiga, kudengar mereka mau bawa pergi bakar mayat Wu Dalang. Aku pergi beli kertas sembahyang. Berpura-pura ikut bersedih. Tanpa diketahui oleh Nenek Wang dan Pan Jinlian,… …diam-diam ambil dua buah tulang dijadikan bukti.

    Tulangnya ini rapuh dan hitam. Ini bukti kematian karena racun. Masih ada lagi. Ini kesaksianku. Sudah kutuliskan di sini. Silakan Kepala memeriksanya. Sebenarnya siapa pembunuhnya? Kenapa mau membunuh kakakku? Kepala. Aku tak tahu juga. Kudengar dari Saudara Yun penjual pir mengetahui rincinya. Pergi? Tuan Pejabat. Wu Song tak takut apa-apa.

    Bagaimana jika dia melaporkan ke pemerintah? Kita pasti akan dibunuh. Tuan Pejabat. Kau bawalah aku pergi. Kita pergi ke tempat yang tak ada orang mengenali kita. Aku mencuci baju dan memasak untukmu. Aku akan melayanimu dengan baik. Aku bisa mendapatkan apa pun yang kumau di sini.

    Ikut kau ke tempat yang tak ada orang mengenali kita? Apakah aku masih Tuan Pejabat Ximen? Tuan Pejabat. Kau masih memilikiku. Kau pikir kau itu siapa? Apakah kau benar-benar berpikir dirimu polos dan bersih? Biar kuberi tahu padamu. Sejak awal, wanita tua ini yang menyuruhku merayumu. Sekarang kalian berdua menghasutku pergi dari sini.

    Menjalani hidup yang damai? Kuberi tahu pada kalian. Siapa pun jangan berpikir untuk pergi. Bukankah hanya seorang Wu Song? Hu Lai sudah mati. Berapa harga kepala Wu Song sekarang? Kepala Wu. Kau akhirnya kembali. Semua salahku. Katakanlah. Hari itu aku bawa Paman Wu menangkap perselingkuhan. Wu Dalang datang! Wu Dalang datang! Wu Dalang datang!

    Lihat apa yang telah kau lakukan! Kubunuh kau, dasar pezina! Kubunuh kau! Paman Wu terluka berat akibat tendangan Ximen Qing. Beberapa hari itu aku sangat mengkhawatirkannya. Namun, tak berani masuk. Jadi, aku memanjat dan melihat situasi dari jendela. Jinlian. Hal-hal yang kau lakukan ini,… …benar-benar membuatku kecewa. Aku tak masalah jika aku mati.

    Tak akan menghalangimu lagi. Namun, kau tahu karakter adikku. Jika dia tahu masalah ini, pasti takkan melepaskanmu. Jinlian. Jika kau sungguh mengasihaniku, sembuhkanlah aku. Aku pasti tak akan memberitahunya. Kudengar, ada sebuah obat yang bisa mengobatimu. Tunggu aku pergi bawa obatnya. Dalang. Waktunya minum obat. Terima kasih, Istriku.

    Aku melihat Paman Wu sangat kesakitan setelah minum obat. Bahkan juga meronta-ronta. Ximen Qing dan Nenek Wang masuk ke kamar. Mereka bertiga membungkamnya dengan bantal secara hidup-hidup. Kau ikut aku pergi ke Kantor Pejabat. Hua Bao? Hua Bao sudah kubunuh lima tahun yang lalu. Setelah itu, aku berubah menjadi Hua Bao.

    Omong kosong apa yang kau katakan? Kepala. Kenapa harus kau orangnya? Jika ada pilihan,… …aku takkan pernah memakai topeng ini lagi. Siapkanlah pemakaman untuk ibumu. Ibuku minum obat yang mahal setiap hari. Kenapa penyakitnya tiba-tiba menjadi parah? Rakyat biasa seperti kita, siapa yang sanggup makan obat mahal itu? Cepat pergi carikan obatnya segera.

    Aku akan bayar berapa pun itu. Selama Kepala mati,… …ibuku baru bisa hidup. Apakah kau sudah menjadi orang Ximen Qing? Jangan salahkan aku. Terima kasih telah merawatku selama ini. Aku hanya bisa membalas budi… …di kehidupan selanjutnya. Kepala, apa kau baik-baik saja? Apa yang terjadi? Siapa itu? Sesuatu telah terjadi? Kepala, apa yang mau diadukan? Kakakku, Wu Dalang… …diracun dan dibunuh oleh Ximen Qing dan kakak iparku… …yang telah melakukan perzinahan. Kedua orang ini adalah saksi mata. Tolong hukum penjahatnya, Tuan. Kasus ini sulit untuk ditangani. Kau juga kepala di kabupaten ini. Apakah kau tak tahu hukum? Seperti pepatah. Tangkap perzinahan harus ada sepasang.

    Tangkap pencuri harus ada bukti barang. Membunuh orang harus terlihat luka. Mayat kakakmu juga sudah hilang. Kau tak tangkap basah perzinahannya. Sekarang hanya andalkan dua orang ini nyatakan pembunuhan. Tidakkah kau berpikir dirimu berprasangka? Jawab, Tuan. Tidak mungkin aku bisa memalsukan ini. Apa yang bisa dibuktikan dari sepotong tulang?

    Apa ia bisa menjawabmu jika kau memanggilnya? Wu Song. Jangan minta orang luar provokasi kau hadapi Ximen Qing. Orang bijak berkata… …”Sekalipun kau melihatnya, mungkin saja itu palsu.” Bagaimana kau bisa hanya andalkan kata-kata? Adapun masalah pembunuhan… …kau membutuhkan mayat, luka, penyakit, barang dan jejak. Jika lima hal ini lengkap, kau baru bisa mengajukan banding. Jika kau memulai rumor seperti ini lagi,… …kau akan dijatuhi hukuman. Sidang selesai! Anda nakal sekali, Tuan Pejabat Ximen. Ada di dalam ruang itu, cepat pergi. Saat aku berusia 12 tahun,… …aku dijual dijadikan budak. Dipindahtangankan beberapa kali. Salah satu dari mereka ingin aku menjadi selirnya. Aku menolak. Lalu, dia memaksaku untuk menikahi kakakmu. Namun, apakah kau tahu? Aku tak pernah mencintainya sehari pun.

    Jika aku tahu akan seperti ini,… …aku tak seharusnya tak membuat pilihan saat itu. Pembunuhan! Tuan Wen, Anda baru datang? Tuan Wen, sudah selesai makan? Sampai jumpa. Semuanya keluar dari sini! Sungguh mengganggu. Siapa yang membunuh Wu Song,… …akan diberikan hadiah besar. Kau masih tak mau berhenti? Aku sudah tak bisa kembali. Aku harus menyelamatkan ibuku. Dasar tak berguna! Semuanya mati saja! Ingin membunuhku? Kau sama tak berguna dengan kakakmu.

    Membunuh kalian sama mudahnya seperti membunuh semut. Kepala Wu. Tolong ampuni aku. Kakak. Aku, Wu Song… …telah membalaskan dendammu. Aku sudah kembali. Wu Song. Kau diam-diam minum arak, ‘kan? Tidak. Apa kau ada makanan enak? Tak ada, hanya ada roti. Tunjukkan padaku. Apa kau ada sembunyikan lagi? Tak kusembunyikan. – Kau sembunyikan di mana? – Tak ada. Akan kubuatkan makanan enak nanti. Baik. Ayo pulang. Ayo. – Ayo kita masuk ke rumah. – Baik. Ayo masuk.